KATA
PENGANTAR
Hamdan syukran lillah atas segala karunia Allah yang
tidak dapat terbilang hanya dengan hitungan jari, karunia nikmat kesehatan
serta kesempatan sehingga penulis dapat menyelesaikan Makalah sederhana ini
walaupun banyak rintangan yang merintangi, sholatan wasalaman ‘alaika ya
rasulallah semoga senantiasa tersanjungkan kepada sang junjungan putra Abdullah
yang senantiasa menjadi sanjungan di sanubari seluruh ummat sepanjang zaman
yakni Nabi Agung sang revolusioner islam Muhammad SAW.
Kami
ucapkan banyak-banyak terimakasih kepada teman-teman kami yang telah membantu
dalam penyelesaian makalah ini dan tidak lupa pula dosen pengampu mata kuliah
sejarah kebudayaan islam kami ucapkan banyak-banyak terimakasih.
Semoga
Allah SWT. memberikan balasan yang lebih besar dan menjadi amal sholeh yang
dapat diterima oleh Allah SWT.
Dengan
kerendahan hati, penulis menerima kritik dan saran yang konstruktif. Akhirnya,
tidak ada satupun yang sempurna kecuali Yang Maha Sempurna, Allah SWT.
BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Perkembangan Islam pada zaman Nabi Muhammad SAW dan Para
Sahabat adalah merupakan Agam Islam pada zaman keemasan, hal itu bisa terlihat
bagaimana kemurnian Islam itu sendiri dengan adanya pelaku dan faktor utamanya
yaitu Rasulullah SAW. Kemudian pada zaman selanjutnya yaitu zaman para sahabat,
terkhusus pada zaman Khalifah empat atau yang lebih terkenal dengan sebutan
Khulafaur Rasyidin, Islam berkembang dengan pesat dimana hampir 2/3 bumi yang
kita huni ini hampir dipegang dan dikendalikan oleh Islam. Hal itu tentunya
tidak terlepas dari para pejuang yang sangat gigih dalam mempertahankan dan
juga dalam menyebarkan islam sebagai agama Tauhid yang diridhoi.
Perkembangan islam pada zaman inilah merupakan titik
tolak perubahan peradaban kearah yang lebih maju. Maka tidak heran para
sejarawan mencatat bahwa islam pada zaman Nabi Muhammad dan Khulafaur Rasyidin
merupakan islam yang luar biasa pengaruhnya. Namun yang terkadang menjadi
pertanyaan adalah kenapa pada zaman sekarang ini seolah kita melupakannya.
Sekaitan dengan itu perlu kiranya kita melihat kembali dan mengkaji kembali
bagaimana sejarah islam yang sebenarnya.
Dalam sejarah Islam, tak ada orang yang begitu sering
disebut sebut namanya sesudah Rasulullah Sallallahu 'alaihi wa sallam seperti
nama Umar bin Khattab. Nama itu disebut-sebut dengan penuh kagum dan sekaligus rasa hormat bila
dihubungkan dengan segala yang diketahui orang tentang sifat-sifatnya dan
bawaannya yang begitu agung dan cemerlang. Jika orang berbicara tentang zuhud
meninggalkan kesenangan dunia padahal orang itu mampu hidup senang, maka orang
akan teringat pada zuhud Umar.
Apabila orang berbicara tentang keadilan yang murni tanpa
cacat, orang akan teringat pada keadilan Umar. Jika berbicara tentang kejujuran,
tanpa membeda-bedakan keluarga dekat atau bukan, maka orang akan teringat pada
kejujuran Umar, dan jika ada yang berbicara tentang pengetahuan dan hukum agama
yang mendalam, orang akan teringat pada Umar.
Sesudah selesai Perang Riddah, dan sesudah pasukan
Muslimin harus menghadapi kekuatan Persia dan Rumawi di perbatasan Irak dan
Syam. Ketika Umar wafat, di samping Irak dan Syam yang sudah bergabung ke dalam
Kedaulatan Islam, kemudian juga meliputi Persia dan Mesir. Dengan demikian
perbatasannya sudah mencapai Cina di sebelah timur, Afrika di sebelah barat,
Laut Kaspia di bagian utara dan Sudan di selatan.
B.
Rumusan
Masalah
Agar tidak
terjadi kesimpang siuran didalam pembahasan makalah ini, maka kami merumuskan
dari beberapa masalah berikut ini:
1. Riwayat Silsilah keturunan Umar bin Khathab
2.
Sejarah
masuk islamnya umar bin khottob
3.
Sejarah
diangkatnya umar bin khottob sebagai kholifah
4.
Sebab-Sebab
Terbunuhnya Sayyidina Umar
C.
Tujuan
Penulisan
1.
Mahasiswa
agar mengetahui sejarah kholifah umar bin khottob ketika manjabat sebagai
kholifah
2.
Mahasiswa
agar mengetahui sejarah kematian sayyidina umar RA
BAB II
PEMBAHASAN
A. Riwayat Silsilah keturunan Umar bin Khathab
Umar bin Khatab (583-644) memiliki nama lengkap Umar bin
Khathab bin Nufail bin Abd Al-Uzza bin Ribaah bin Abdillah bin Qart bin razail
bin ‘Adi bin Ka’ab bin Lu’ay, adalah khalifah kedua yang menggantikan Abu Bakar
Ash-Shiddiq. Umar bin khattab lahir di Mekkah pada tahun 583 M, dua belas tahun
lebih muda dari Rasulullah Umar juga termasuk kelurga dari keturunan Bani Suku
Ady (Bani Ady). Suku yang sangat terpandang dan berkedudukan tinggi dikalangan orang-orang
Qurais sebelum Islam. Umar memiliki postur tubuh yang tegap dan kuat, wataknya
keras, pemberani dan tidak mengenal gentar, pandai berkelahi, siapapun musuh
yang berhadapan dengannya akan bertekuk lutut. Ia memiliki kecerdasan yang luar
biasa, mampu memperkirakan hal-hal yang akan terjadi dimasa yang akan datang,
tutur bahasanya halus dan bicaranya fasih.
Khalifah Umar bin Khatab dikenal sebagai pemimpin yang
sangat disayangi rakyatnya karena perhatian dan tanggungjawabnya yang luar
biasa pada rakyatnya. Salah satu kebiasaannya adalah melakukan pengawasan
langsung dan sendirian berkeliling kota mengawasi kehidupan rakyatnya.
Setelah ia menyaksikan keluarga dan sebagian orang Arab
menyatakan masuk Islam maka terjadi dialog pemikiran dalam dirinya, dialog itu
seperti perenungan yang kadang kala menjadi peperangan untuk menentukan dan
mencari hakekat kebenaran. Diriwayatkan
ketika Umar mendapatkan saudaranya sedang melantunkan ayat quran dengan suara
yang indah, redamlah emosi Umar. Setelah itu ia menemui Nabi Muhammad dan
menyatakan masuk Islam pada tahun keenam dari masa kenabian. Islamnya Umar
membawa pengaruh yang besar bagi perjuangan Nabi Muhammad.
B.
Sejarah
masuk islamnya umar bin khottob
Kita ketahui sebelumnya bahwa Umar bin Khatthab
dilahirkan di Mekkah dari keturunan suku Quraish yang terpandang dan terhormat.
Nabi 'alaihis-salam memang ingin sekali Islam dapat diperkuat dengan orang yang
kuat dan berani, yang tidak takut menghadapi musuh dalam membela akidah. Lalu
Nabi Muhammad berdoa :
"'Ya Allah, perkuat Islam dengan Abul-Hakam bin
Hisyam atau Umar bin al-Khattab."
Umar adalah seorang Seorang pemuda yang gagah perkasa
berjalan dengan langkah yang mantap mencari Nabi hendak membunuhnya. Ia sangat
membenci Nabi, dan agama baru yang dibawanya. Di tengah perjalanan ia bertemu
dengan seseorang yang bernama Naim bin Abdullah yang menanyakan tujuan
perjalanannya tersebut. Kemudian diceritakannya niatnya itu. Dengan mengejek,
Naim mengatakan agar ia lebih baik memperbaiki urusan rumah tangganya sendiri
terlebih dahulu.
Maka ia pun mendatangi Muhammad yang sedang berada di
tengah-tengah para sahabatnya di Darul Arqam di Safa, atau mengikutinya dalam
perjalanan pulang dari tempat ia salat di Ka'bah ke rumahnya. Setelah ditanya
oleh Rasulullah: Apa maksud kedatanganmu?! Tanpa ragu ia menjawab:
"Kedatangan saya hendak beriman kepada Allah dan kepada Rasulullah.
Sebelum ia datang ke Nabi Muhammad Saw, salah satu sebab
Umar bin Khatthab masuk islam. Sumber-sumber menyebutkan bahwa Umar memang
sangat sedih karena sesama anggota masyarakatnya telah pergi meninggalkan tanah
air," sesudah mereka disiksa dan dianiaya. Selalu ia memikirkan hendak
mencari jalan untuk menyelamatkan mereka dari keadaan demikian. Ia berpendapat
keadaan ini baru akan dapat diatasi apabila ia segera mengambil tindakan tegas.
Ketika itulah ia mengambil keputusan akan membunuh Muhammad. Selama ia masih
ada, Kuraisy tak akan bersatu. Suatu pagi ia pergi dengan pedang terhunus di
tangan hendak membunuh Rasulullah dan beberapa orang sahabatnya yang sudah
diketahuinya mereka sedang berkumpul di Darul Arqam di Safa.
Jumlah mereka hampir empat puluh orang laki-laki dan
perempuan. Sementara dalam perjalanan itu ia bertemu dengan Nu'aim bin Abdullah
yang laiu menanyakan: "Mau ke mana?" dan dijawab oleh Umar:
"Saya sedang mencari Muhammad, itu orang yang sudah meninggalkan
kepercayaan leluhur dan memecah belah Kuraisy, menistakan lembaga hidup kita,
menghina agama dan sembahan kita. Akan saya bunuh dia!". "Anda menipu
diri sendiri, Umar. Anda kira Abdu-Manaf akan membiarkan Anda bebas berjalan di
bumi ini jika sudah membunuh Muhammad? Tidakkah lebih baik Anda pulang dulu
menemui keluargamu dan luruskan mereka!" "Keluarga saya yang
mana?" tanya Umar. Kawannya itu menjawab: "Ipar dan sepupu Anda Sa'id
bin Zaid bin Amr, dan adikmu Fatimah binti Khattab. Kedua mereka sudah masuk
Islam dan menjadi pengikut Muhammad. Mereka itulah yang harus Anda
hadapi."
Umar kembali pulang hendak menemui adik perempuannya dan
Iparnya dengan kemarahan. Ketika itu di sana Khabbab bin al-Arat yang sedang
memegang lembaran-lembaran Qur'an membacakan kepada mereka Surah Toha. Begitu
mereka merasa ada Umar datang, Khabbab bersembunyi di kamar mereka dan Fatimah
menyembunyikan kitab itu. Setelah berada dekat dari rumah itu ia masih
mendengar bacaan Khabbab tadi, dan sesudah masuk langsung ia menanyakan:
"Saya mendengar suara bisik-bisik apa itu?" "Saya tidak
mendengar apa-apa," Fatimah menjawab. "Tidak!" kata Umar lagi,
"Saya sudah mendengar bahwa kamu berdua sudah menjadi pengikut Muhammad
dan agamanya!" Ia berkata begitu sambil menghantam Sa'id bin Zaid
keras-keras. Fatimah, yang berusaha hendak melindungi suaminya, juga mendapat
pukulan keras. Melihat tindakan Umar yang demikian, mereka berkata: "Ya,
kami sudah masuk Islam, dan kami beriman kepada Allah dan kepada Rasul-Nya.
Sekarang lakukan apa saja sekehendak Anda!" Melihat darah di muka adiknya
itu Umar merasa menyesal, dan menyadari apa yang telah diperbuatnya. "Ke
marikan kitab yang saya dengar kalian baca tadi," katanya. "Akan saya
lihat apa yang diajarkan Muhammad!" Fatimah berkata: "Kami khawatir
akan Anda sia-siakan." "Jangan takut," kata Umar. Lalu ia
bersumpah demi dewa-dewanya bahwa ia akan mengembalikannya bilamana sudah
selesai membacanya. Lalu Umar membaca Surah At-Toha yang dibaca oleh adiknya :
"Bahwa ini sungguh perkalaan Rasul yang mulia. Itu
bukanlah perkataan seorang penyair; sedikit sekali kamu percaya!"
"Juga bukan perkataan seorang peramal; sediklt sekali
kamu mau menerima peringatan. (lni adalah wahyu) yang diturunkan dari Tuhan
semesta alam. Dan kalau dia mengada-adakan perkataan atas nama Kami, pasti Kami
tangkap dia dengan tangan kanan, kemudian pasti Kami potong pembuluh
jantungnya. Maka tak seorang pun dari kamu dapat mempertahankannya."
Kitab itu diberikan oleh Fatimah. Sesudah sebagian
dibacanya, ia berkata: "Sungguh indah dan mulia sekali kata-kata
ini!" Mendengar kata kata itu Khabbab yang sejak tadi bersembunyi keluar
dan katanya kepada Umar: "Umar, demi Allah saya sangat mengharapkan Allah
akan memberi kehormatan kepada Anda dengan ajaran Rasul-Nya ini. Kemarin saya
mendengar ia berkata: 'Allahumma ya Allah, perkuatlah Islam dengan Abul-Hakam
bin Hisyam atau dengan Umar bin Khattab.' Berhati-hatilah, Umar!'" Ketika
itu Umar berkata: "Khabbab, antarkan saya kepada Muhammad. Saya akan
menemuinya dan akan masuk Islam," dijawab oleh Khabbab dengan mengatakan:
"Dia dengan beberapa orang sahabatnya di sebuah rumah di Safa." Umar
mengambil pedangnya dan pergi langsung mengetuk pintu di tempat Rasulullah dan
sahabat-sahabatnya berada.
Mendengar suaranya, salah seorang di antara mereka
mengintip dari celah pintu. Dilihatnya Umar yang sedang menyandang pedang. ia
kembali ketakutan sambil berkata: "Rasulullah, Umar bin Khattab datang
membawa pedang. Tetapi Hamzah bin Abdul-Muttalib menyela: "Izinkan dia
masuk. Kalau kedatangannya dengan tujuan yang baik, kita sambut dengan baik;
kalau bertujuan jahat, kita bunuh dia dengan pedangnya sendiri. Ketika itu
Rasulullah Sallallahu 'alaihi wa sallam berkata: "Izinkan dia masuk."
Sesudah diberi izin Rasulullah berdiri menemuinya di sebuah ruangan.
Digenggamnya baju Umar kemudian ditariknya kuat-kuat seraya katanya: "Ibn
Khattab, apa maksud kedatanganmu? Rupanya Anda tidak akan berhenti sebelum
Allah mendatangkan bencana kepada Anda!" "Rasulullah," kata
Umar, "saya datang untuk menyatakan keimanan kepada Allah dan kepada
Rasul-Nya serta segala yang datang dari Allah." Ketika itu juga Rasulullah
bertakbir, yang oleh sahabat-sahabatnya sudah dipahami bahwa Umar masuk Islam.
Keislaman Umar sangat menggencarkan masyarakat pada
masanya, karena Umar adalah orang yang sangat membenci dan menentang ajaran
Islam, tetapi Allah berkehendak lain, Beliau mendapatkan hidayah lewat adiknya
Fatimah Binti Khattab. Ketika rasulullah wafat setelah sakit dalam beberapa
minggu, Nabi Muhammad SAW wafat pada hari senin tanggal 8 Juni 632 (12 Rabiul
Awal, 10 Hijriah), di Madinah. Persiapan pemakamannya dihambat oleh Umar yang
melarang siapapun memandikan atau menyiapkan jasadnya untuk pemakaman. Ia
berkeras bahwa Nabi tidaklah wafat melainkan sedang tidak berada dalam tubuh
kasarnya, dan akan kembali sewaktu-waktu.
Abu Bakar yang kebetulan sedang berada di luar Madinah,
demi mendengar kabar itu lantas bergegas kembali. Ia menjumpai Umar sedang
menahan muslim yang lain dan lantas mengatakan. "Saudara-saudara!
Barangsiapa mau menyembah Muhammad, Muhammad sudah mati. Tetapi barangsiapa mau
menyembah Allah, Allah hidup selalu tak pernah mati."
Abu Bakar kemudian membacakan ayat dari Al Qur'an :
وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٌۭ قَدْ خَلَتْ مِن قَبْلِهِ ٱلرُّسُلُ
ۚ أَفَإِي۟ن مَّاتَ أَوْ قُتِلَ ٱنقَلَبْتُمْ عَلَىٰٓ أَعْقَٰبِكُمْ ۚ وَمَن
يَنقَلِبْ عَلَىٰ عَقِبَيْهِ فَلَن يَضُرَّ ٱللَّهَ شَيْـًۭٔا ۗ وَسَيَجْزِى ٱللَّهُ
ٱلشَّٰكِرِينَ
"Muhammad itu tidak lain hanyalah
seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul.
Apakah Jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)?
Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan
mudharat kepada Allah sedikitpun, dan Allah akan memberi balasan kepada
orang-orang yang bersyukur." (surat Ali 'Imran ayat 144).
C.
Sejarah
diangkatnya umar bin khottob sebagai kholifah
Pada musim panas tahun 364 M Abu Bakar
menderita sakit dan akhirnya wafat pada hari senin 21 Jumadil Akhir 13
H/22Agustus 634 M dalam usia 63 tahun. Sebelum beliau wafat telah menunjuk Umar
bin Khatab sebagai penggantinya sebagai khalifah. Penunjukan ini berdasarkan
pada kenangan beliau tentang pertentangan yang terjadi antara kaum Muhajirin
dan Ansor. Dia khawatir kalau tidak segera menunjuk pengganti dan ajar segera
dating, akan timbul pertentangan dikalangan umat islam yang mungkin dapat lebih
parah dari pada ketika Nabi wafat dahulu.
Dengan demikian, ada perbedaan antara
prosedur pengangkatan Umar bin Khatab sebagai khalifah dengan khalifah
sebelumnya yaitu Abu Bakar . Umar mendapat kepercayaan sebagai khalifah kedua
tidak melalui pemilihan dalam system musyawarah yang terbuka, tetapi melalui
penunjukan atau watsiat oleh pendahulunya (Abu Bakar).
Ketika Abu Bakar merasa dirinya sudah tua
dan ajalnya sudah dekat.yang terlintas difikirannya adalah siapa yang akan
menggantikannya sebagai khalifah kelak. Abu Bakar minta pendapat kepada para
tokoh sahabat seperti Usman bin Affan, Ali bin Abithalib, Abdurrahman bin Auf,
Thalhah bin Ubaidillah, Usaid bin Khudur mereka menyetujui usulan Abu Bakar
bahwa Umar bin Khattab akan diangkat sebagai penggantinya. Setelah Abu Bakar
wafat, para sahabat membai’at Umar sebagai khalifah.
Hal ini dilakukan khalifah guna menghindari
pertikaian politik antar umat Islam sendiri. Beliau khawatir kalau pengangkatan
itu dilakukan melalui proses pemilihan pada masanya maka situasinya akan
menjadi keruh karena kemungkinan terdapat banyak kepentingan yang ada diantara mereka yang
membuat negara menjadi tidak stabil sehingga pelaksanaan pembangunan dan
pengembangan Islam akan terhambat. Pada saat itu pula Umar di bai’at oleh kaum
muslimin, dan secara langsung beliau diterima sebagai khalifah yang resmi yang
akan menuntun umat Islam pada masa yang penuh dengan kemajuan dan akan siap
membuka cakrawala di dunia muslim. Beliau diangkat sebagai khlifah pada tahun
13H/634M.
D.
Sebab-Sebab
Terbunuhnya Sayyidina Umar
Setelah menjalankan pemerintahan selama 10 tahun,
khalifah Umar bin Khattab meningga akibat dibunuh oleh seorang Majusi bernama
Abdul Mughirah yang biasa dipanggil Abu
Lu’luah karena merasa tidak puas terhadap jawaban Umar ketika mengadu tentang
besarnya jumlah pajak yang harus dibayar.
Setelah Umar bin Khattab wafat Majelis Permusyawaratan
tadi mengadakan pemilihan di rumah al-Miswar bin Marhamah, kecuali Thalhah bin
Abdillah yang tidak dapat hadir pada saat itu. Dalam pemilihan itu akhirnya
pendapat tertuju kepada Utsman bin Af fan dan jadilah beliau sebagai khalifah
yang ketiga dan menjabat selama ± 12 tahun (644-656M).
Orang yang membunuh Umar adalah seorang Majusi bernama
Abdul Mughirah yang biasa dipanggil Abu Lu’lu’ah. Disebutkan bahwa ia membunuh
Umar karena ia pernah datang mengadu kepada Khalifah Umar tentang berat dan
banyaknya kharaj (pajak) yang harus dia keluarkan, tetapi Khalifah Umar
menjawab, “Kharajmu tidak terlalu banyak.” Dia kemudian pergi sambil menggerutu,
“Keadilannya men jangkau semua orang kecuali aku.” Ia lalu berjanji akan
membunuhnya. Dipersiapkanlah sebuah pisau belati yang telah diasah dan diolesi
dengan racun -orang ini adalah ahli berbagai kerajinan- lalu disimpan di salah
satu sudut masjid. Tatkala Khalifah Umar berangkat ke masjid seperti biasanya
menunaikan shalat subuh, langsung saja ia menyerang. Dia menikamnya dengan tiga
tikaman dan berhasil merobohkannya. Kemudian setiap orang yang berusaha
mengepung dirinya diserangnya pula. Sampai ada salah seorang yang berhasil
menjaringkan kain kepadanya. Setelah melihat bahwa dirinya terikat dan tidak
bisa ber kutik, dia membunuh dirinya dengan pisau belati yang dibawanya.
Itulah berita yang disebutkan para perawi tentang
pembunuhan Umar Radhiyallahu ‘anhu. Barangkali di balik peristiwa pembunuhan
ini terdapat konspirasi yang dirancang oleh banyak pihak di antaranya
orang-orang Yahudi, Majusi, dan Zindiq. Sangat tidak mungkin per buatan
kriminal ini dilakukan semata-mata karena kekecewaan pribadi karena banyaknya
kharoj yang harus dikeluarkannya. Wallahu a’lam.
Ketika diberitahukan bahwa pembunuhnya adalah Abu
Lu’lu’ah, Khalifah Umar berkata, “Segala puji bagi Allah yang tidak menjadikan
kematianku di tangan orang yang mengaku Muslim.” Umar kemudian berwasiat kepada
putranya, “Wahai Abdullah, periksalah utang- utangku!”
Setelah dihitung,
ternyata Umar mempunyai utang sejumlah 86.000 dirham. Khalifah Umar lalu
berkata, “Jika harta keluarga Umar sudah mencukupi, bayarlah dari harta mereka.
Jika tidak mencukupi, pintalah kepada bani Addi. Jika harta mereka juga belum
mencukupi, mintalah kepada Quraisy.” Selanjutnya Umar berkata kepada anaknya,
“Pergilah menemui Ummul Mu’minin Aisyah! Katakan bahwa Umar meminta izin untuk
dikubur berdampingan dengan kedua sahabatnya (maksudnya Nabi Shalallahu ‘alaihi
wa sallam dan Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu).” Mendengar permintaan ini, Aisyah
Radhiyallahu ‘anha menjawab, “Sebetulnya tempat itu kuinginkan untuk diriku
sendiri, tetapi biarlah sekarang kuberikan kepadanya.” Setelah hal ini
disampaikan kepadanya, Umar langsung memuji Allah.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Riwayat Silsilah keturunan Umar bin Khathab
Umar bin Khatab (583-644) memiliki nama lengkap Umar bin
Khathab bin Nufail bin Abd Al-Uzza bin Ribaah bin Abdillah bin Qart bin razail
bin ‘Adi bin Ka’ab bin Lu’ay, adalah khalifah kedua yang menggantikan Abu Bakar
Ash-Shiddiq. Umar bin khattab lahir di Mekkah pada tahun 583 M, dua belas tahun
lebih muda dari Rasulullah Umar juga termasuk kelurga dari keturunan Bani Suku
Ady (Bani Ady). Suku yang sangat terpandang dan berkedudukan tinggi dikalangan orang-orang
Qurais sebelum Islam. Umar memiliki postur tubuh yang tegap dan kuat, wataknya
keras, pemberani dan tidak mengenal gentar, pandai berkelahi, siapapun musuh
yang berhadapan dengannya akan bertekuk lutut. Ia memiliki kecerdasan yang luar
biasa, mampu memperkirakan hal-hal yang akan terjadi dimasa yang akan datang,
tutur bahasanya halus dan bicaranya fasih.
Khalifah Umar bin Khatab dikenal sebagai pemimpin yang
sangat disayangi rakyatnya karena perhatian dan tanggungjawabnya yang luar
biasa pada rakyatnya. Salah satu kebiasaannya adalah melakukan pengawasan
langsung dan sendirian berkeliling kota mengawasi kehidupan rakyatnya.
Setelah ia menyaksikan keluarga dan sebagian orang Arab
menyatakan masuk Islam maka terjadi dialog pemikiran dalam dirinya, dialog itu
seperti perenungan yang kadang kala menjadi peperangan untuk menentukan dan
mencari hakekat kebenaran. Diriwayatkan
ketika Umar mendapatkan saudaranya sedang melantunkan ayat quran dengan suara
yang indah, redamlah emosi Umar. Setelah itu ia menemui Nabi Muhammad dan
menyatakan masuk Islam pada tahun keenam dari masa kenabian. Islamnya Umar
membawa pengaruh yang besar bagi perjuangan Nabi Muhammad.
B.
Sejarah
masuk islamnya umar bin khottob
Kita ketahui sebelumnya bahwa Umar bin Khatthab
dilahirkan di Mekkah dari keturunan suku Quraish yang terpandang dan terhormat.
Nabi 'alaihis-salam memang ingin sekali Islam dapat diperkuat dengan orang yang
kuat dan berani, yang tidak takut menghadapi musuh dalam membela akidah. Lalu
Nabi Muhammad berdoa :
"'Ya Allah, perkuat Islam dengan Abul-Hakam bin
Hisyam atau Umar bin al-Khattab."
Umar adalah seorang Seorang pemuda yang gagah perkasa
berjalan dengan langkah yang mantap mencari Nabi hendak membunuhnya. Ia sangat
membenci Nabi, dan agama baru yang dibawanya. Di tengah perjalanan ia bertemu
dengan seseorang yang bernama Naim bin Abdullah yang menanyakan tujuan
perjalanannya tersebut. Kemudian diceritakannya niatnya itu. Dengan mengejek,
Naim mengatakan agar ia lebih baik memperbaiki urusan rumah tangganya sendiri
terlebih dahulu.
Maka ia pun mendatangi Muhammad yang sedang berada di
tengah-tengah para sahabatnya di Darul Arqam di Safa, atau mengikutinya dalam
perjalanan pulang dari tempat ia salat di Ka'bah ke rumahnya. Setelah ditanya
oleh Rasulullah: Apa maksud kedatanganmu?! Tanpa ragu ia menjawab:
"Kedatangan saya hendak beriman kepada Allah dan kepada Rasulullah.
Sebelum ia datang ke Nabi Muhammad Saw, salah satu sebab
Umar bin Khatthab masuk islam. Sumber-sumber menyebutkan bahwa Umar memang
sangat sedih karena sesama anggota masyarakatnya telah pergi meninggalkan tanah
air," sesudah mereka disiksa dan dianiaya. Selalu ia memikirkan hendak
mencari jalan untuk menyelamatkan mereka dari keadaan demikian. Ia berpendapat
keadaan ini baru akan dapat diatasi apabila ia segera mengambil tindakan tegas.
Ketika itulah ia mengambil keputusan akan membunuh Muhammad. Selama ia masih
ada, Kuraisy tak akan bersatu. Suatu pagi ia pergi dengan pedang terhunus di
tangan hendak membunuh Rasulullah dan beberapa orang sahabatnya yang sudah
diketahuinya mereka sedang berkumpul di Darul Arqam di Safa.
Jumlah mereka hampir empat puluh orang laki-laki dan
perempuan. Sementara dalam perjalanan itu ia bertemu dengan Nu'aim bin Abdullah
yang laiu menanyakan: "Mau ke mana?" dan dijawab oleh Umar:
"Saya sedang mencari Muhammad, itu orang yang sudah meninggalkan
kepercayaan leluhur dan memecah belah Kuraisy, menistakan lembaga hidup kita,
menghina agama dan sembahan kita. Akan saya bunuh dia!". "Anda menipu
diri sendiri, Umar. Anda kira Abdu-Manaf akan membiarkan Anda bebas berjalan di
bumi ini jika sudah membunuh Muhammad? Tidakkah lebih baik Anda pulang dulu
menemui keluargamu dan luruskan mereka!" "Keluarga saya yang
mana?" tanya Umar. Kawannya itu menjawab: "Ipar dan sepupu Anda Sa'id
bin Zaid bin Amr, dan adikmu Fatimah binti Khattab. Kedua mereka sudah masuk
Islam dan menjadi pengikut Muhammad. Mereka itulah yang harus Anda
hadapi."
Umar kembali pulang hendak menemui adik perempuannya dan
Iparnya dengan kemarahan. Ketika itu di sana Khabbab bin al-Arat yang sedang
memegang lembaran-lembaran Qur'an membacakan kepada mereka Surah Toha. Begitu
mereka merasa ada Umar datang, Khabbab bersembunyi di kamar mereka dan Fatimah
menyembunyikan kitab itu. Setelah berada dekat dari rumah itu ia masih
mendengar bacaan Khabbab tadi, dan sesudah masuk langsung ia menanyakan:
"Saya mendengar suara bisik-bisik apa itu?" "Saya tidak
mendengar apa-apa," Fatimah menjawab. "Tidak!" kata Umar lagi,
"Saya sudah mendengar bahwa kamu berdua sudah menjadi pengikut Muhammad
dan agamanya!" Ia berkata begitu sambil menghantam Sa'id bin Zaid
keras-keras. Fatimah, yang berusaha hendak melindungi suaminya, juga mendapat
pukulan keras. Melihat tindakan Umar yang demikian, mereka berkata: "Ya,
kami sudah masuk Islam, dan kami beriman kepada Allah dan kepada Rasul-Nya.
Sekarang lakukan apa saja sekehendak Anda!" Melihat darah di muka adiknya
itu Umar merasa menyesal, dan menyadari apa yang telah diperbuatnya. "Ke
marikan kitab yang saya dengar kalian baca tadi," katanya. "Akan saya
lihat apa yang diajarkan Muhammad!" Fatimah berkata: "Kami khawatir
akan Anda sia-siakan." "Jangan takut," kata Umar. Lalu ia
bersumpah demi dewa-dewanya bahwa ia akan mengembalikannya bilamana sudah
selesai membacanya. Lalu Umar membaca Surah At-Toha yang dibaca oleh adiknya :
"Bahwa ini sungguh perkalaan Rasul yang mulia. Itu
bukanlah perkataan seorang penyair; sedikit sekali kamu percaya!"
"Juga bukan perkataan seorang peramal; sediklt sekali
kamu mau menerima peringatan. (lni adalah wahyu) yang diturunkan dari Tuhan
semesta alam. Dan kalau dia mengada-adakan perkataan atas nama Kami, pasti Kami
tangkap dia dengan tangan kanan, kemudian pasti Kami potong pembuluh
jantungnya. Maka tak seorang pun dari kamu dapat mempertahankannya."
Kitab itu diberikan oleh Fatimah. Sesudah sebagian
dibacanya, ia berkata: "Sungguh indah dan mulia sekali kata-kata
ini!" Mendengar kata kata itu Khabbab yang sejak tadi bersembunyi keluar
dan katanya kepada Umar: "Umar, demi Allah saya sangat mengharapkan Allah
akan memberi kehormatan kepada Anda dengan ajaran Rasul-Nya ini. Kemarin saya
mendengar ia berkata: 'Allahumma ya Allah, perkuatlah Islam dengan Abul-Hakam
bin Hisyam atau dengan Umar bin Khattab.' Berhati-hatilah, Umar!'" Ketika
itu Umar berkata: "Khabbab, antarkan saya kepada Muhammad. Saya akan
menemuinya dan akan masuk Islam," dijawab oleh Khabbab dengan mengatakan:
"Dia dengan beberapa orang sahabatnya di sebuah rumah di Safa." Umar
mengambil pedangnya dan pergi langsung mengetuk pintu di tempat Rasulullah dan
sahabat-sahabatnya berada.
Mendengar suaranya, salah seorang di antara mereka
mengintip dari celah pintu. Dilihatnya Umar yang sedang menyandang pedang. ia
kembali ketakutan sambil berkata: "Rasulullah, Umar bin Khattab datang
membawa pedang. Tetapi Hamzah bin Abdul-Muttalib menyela: "Izinkan dia
masuk. Kalau kedatangannya dengan tujuan yang baik, kita sambut dengan baik;
kalau bertujuan jahat, kita bunuh dia dengan pedangnya sendiri. Ketika itu
Rasulullah Sallallahu 'alaihi wa sallam berkata: "Izinkan dia masuk."
Sesudah diberi izin Rasulullah berdiri menemuinya di sebuah ruangan.
Digenggamnya baju Umar kemudian ditariknya kuat-kuat seraya katanya: "Ibn
Khattab, apa maksud kedatanganmu? Rupanya Anda tidak akan berhenti sebelum
Allah mendatangkan bencana kepada Anda!" "Rasulullah," kata
Umar, "saya datang untuk menyatakan keimanan kepada Allah dan kepada
Rasul-Nya serta segala yang datang dari Allah." Ketika itu juga Rasulullah
bertakbir, yang oleh sahabat-sahabatnya sudah dipahami bahwa Umar masuk Islam.
Keislaman Umar sangat menggencarkan masyarakat pada
masanya, karena Umar adalah orang yang sangat membenci dan menentang ajaran
Islam, tetapi Allah berkehendak lain, Beliau mendapatkan hidayah lewat adiknya
Fatimah Binti Khattab. Ketika rasulullah wafat setelah sakit dalam beberapa
minggu, Nabi Muhammad SAW wafat pada hari senin tanggal 8 Juni 632 (12 Rabiul
Awal, 10 Hijriah), di Madinah. Persiapan pemakamannya dihambat oleh Umar yang
melarang siapapun memandikan atau menyiapkan jasadnya untuk pemakaman. Ia
berkeras bahwa Nabi tidaklah wafat melainkan sedang tidak berada dalam tubuh
kasarnya, dan akan kembali sewaktu-waktu.
Abu Bakar yang kebetulan sedang berada di luar Madinah,
demi mendengar kabar itu lantas bergegas kembali. Ia menjumpai Umar sedang
menahan muslim yang lain dan lantas mengatakan. "Saudara-saudara!
Barangsiapa mau menyembah Muhammad, Muhammad sudah mati. Tetapi barangsiapa mau
menyembah Allah, Allah hidup selalu tak pernah mati."
Abu Bakar kemudian membacakan ayat dari Al Qur'an :
وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٌۭ قَدْ خَلَتْ مِن قَبْلِهِ ٱلرُّسُلُ
ۚ أَفَإِي۟ن مَّاتَ أَوْ قُتِلَ ٱنقَلَبْتُمْ عَلَىٰٓ أَعْقَٰبِكُمْ ۚ وَمَن
يَنقَلِبْ عَلَىٰ عَقِبَيْهِ فَلَن يَضُرَّ ٱللَّهَ شَيْـًۭٔا ۗ وَسَيَجْزِى ٱللَّهُ
ٱلشَّٰكِرِينَ
"Muhammad itu tidak lain hanyalah
seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul.
Apakah Jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)?
Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan
mudharat kepada Allah sedikitpun, dan Allah akan memberi balasan kepada
orang-orang yang bersyukur." (surat Ali 'Imran ayat 144).
C.
Sejarah
diangkatnya umar bin khottob sebagai kholifah
Pada musim panas tahun 364 M Abu Bakar
menderita sakit dan akhirnya wafat pada hari senin 21 Jumadil Akhir 13
H/22Agustus 634 M dalam usia 63 tahun. Sebelum beliau wafat telah menunjuk Umar
bin Khatab sebagai penggantinya sebagai khalifah. Penunjukan ini berdasarkan
pada kenangan beliau tentang pertentangan yang terjadi antara kaum Muhajirin
dan Ansor. Dia khawatir kalau tidak segera menunjuk pengganti dan ajar segera
dating, akan timbul pertentangan dikalangan umat islam yang mungkin dapat lebih
parah dari pada ketika Nabi wafat dahulu.
Dengan demikian, ada perbedaan antara
prosedur pengangkatan Umar bin Khatab sebagai khalifah dengan khalifah
sebelumnya yaitu Abu Bakar . Umar mendapat kepercayaan sebagai khalifah kedua
tidak melalui pemilihan dalam system musyawarah yang terbuka, tetapi melalui
penunjukan atau watsiat oleh pendahulunya (Abu Bakar).
Ketika Abu Bakar merasa dirinya sudah tua
dan ajalnya sudah dekat.yang terlintas difikirannya adalah siapa yang akan
menggantikannya sebagai khalifah kelak. Abu Bakar minta pendapat kepada para
tokoh sahabat seperti Usman bin Affan, Ali bin Abithalib, Abdurrahman bin Auf,
Thalhah bin Ubaidillah, Usaid bin Khudur mereka menyetujui usulan Abu Bakar
bahwa Umar bin Khattab akan diangkat sebagai penggantinya. Setelah Abu Bakar
wafat, para sahabat membai’at Umar sebagai khalifah.
Hal ini dilakukan khalifah guna menghindari
pertikaian politik antar umat Islam sendiri. Beliau khawatir kalau pengangkatan
itu dilakukan melalui proses pemilihan pada masanya maka situasinya akan
menjadi keruh karena kemungkinan terdapat banyak kepentingan yang ada diantara mereka yang
membuat negara menjadi tidak stabil sehingga pelaksanaan pembangunan dan
pengembangan Islam akan terhambat. Pada saat itu pula Umar di bai’at oleh kaum
muslimin, dan secara langsung beliau diterima sebagai khalifah yang resmi yang
akan menuntun umat Islam pada masa yang penuh dengan kemajuan dan akan siap
membuka cakrawala di dunia muslim. Beliau diangkat sebagai khlifah pada tahun
13H/634M.
D.
Sebab-Sebab
Terbunuhnya Sayyidina Umar
Setelah menjalankan pemerintahan selama 10 tahun,
khalifah Umar bin Khattab meningga akibat dibunuh oleh seorang Majusi bernama
Abdul Mughirah yang biasa dipanggil Abu
Lu’luah karena merasa tidak puas terhadap jawaban Umar ketika mengadu tentang
besarnya jumlah pajak yang harus dibayar.
Setelah Umar bin Khattab wafat Majelis Permusyawaratan
tadi mengadakan pemilihan di rumah al-Miswar bin Marhamah, kecuali Thalhah bin
Abdillah yang tidak dapat hadir pada saat itu. Dalam pemilihan itu akhirnya
pendapat tertuju kepada Utsman bin Af fan dan jadilah beliau sebagai khalifah
yang ketiga dan menjabat selama ± 12 tahun (644-656M).
Orang yang membunuh Umar adalah seorang Majusi bernama
Abdul Mughirah yang biasa dipanggil Abu Lu’lu’ah. Disebutkan bahwa ia membunuh
Umar karena ia pernah datang mengadu kepada Khalifah Umar tentang berat dan
banyaknya kharaj (pajak) yang harus dia keluarkan, tetapi Khalifah Umar
menjawab, “Kharajmu tidak terlalu banyak.” Dia kemudian pergi sambil menggerutu,
“Keadilannya men jangkau semua orang kecuali aku.” Ia lalu berjanji akan
membunuhnya. Dipersiapkanlah sebuah pisau belati yang telah diasah dan diolesi
dengan racun -orang ini adalah ahli berbagai kerajinan- lalu disimpan di salah
satu sudut masjid. Tatkala Khalifah Umar berangkat ke masjid seperti biasanya
menunaikan shalat subuh, langsung saja ia menyerang. Dia menikamnya dengan tiga
tikaman dan berhasil merobohkannya. Kemudian setiap orang yang berusaha
mengepung dirinya diserangnya pula. Sampai ada salah seorang yang berhasil
menjaringkan kain kepadanya. Setelah melihat bahwa dirinya terikat dan tidak
bisa ber kutik, dia membunuh dirinya dengan pisau belati yang dibawanya.
Itulah berita yang disebutkan para perawi tentang
pembunuhan Umar Radhiyallahu ‘anhu. Barangkali di balik peristiwa pembunuhan
ini terdapat konspirasi yang dirancang oleh banyak pihak di antaranya
orang-orang Yahudi, Majusi, dan Zindiq. Sangat tidak mungkin per buatan
kriminal ini dilakukan semata-mata karena kekecewaan pribadi karena banyaknya
kharoj yang harus dikeluarkannya. Wallahu a’lam.
Ketika diberitahukan bahwa pembunuhnya adalah Abu
Lu’lu’ah, Khalifah Umar berkata, “Segala puji bagi Allah yang tidak menjadikan
kematianku di tangan orang yang mengaku Muslim.” Umar kemudian berwasiat kepada
putranya, “Wahai Abdullah, periksalah utang- utangku!”
Setelah dihitung, ternyata Umar mempunyai utang
sejumlah 86.000 dirham. Khalifah Umar lalu berkata, “Jika harta keluarga Umar
sudah mencukupi, bayarlah dari harta mereka. Jika tidak mencukupi, pintalah
kepada bani Addi. Jika harta mereka juga belum mencukupi, mintalah kepada
Quraisy.” Selanjutnya Umar berkata kepada anaknya, “Pergilah menemui Ummul
Mu’minin Aisyah! Katakan bahwa Umar meminta izin untuk dikubur berdampingan
dengan kedua sahabatnya (maksudnya Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam dan Abu
Bakar Radhiyallahu ‘anhu).” Mendengar permintaan ini, Aisyah Radhiyallahu ‘anha
menjawab, “Sebetulnya tempat itu kuinginkan untuk diriku sendiri, tetapi
biarlah sekarang kuberikan kepadanya.” Setelah hal ini disampaikan kepadanya,
Umar langsung memuji Allah.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Umar bin Khatthab adalah salah satu sahabat terbesar
sepanjang sejarah sesudah Nabi Muhammad SAW.Peranan umar dalam sejarah Islam
masa permulaan merupakan yang paling menonjol kerena perluasan wilayahnya,
disamping kebijakan-kebijakan politiknya yang lain. Adanya penaklukan
besar-besaran pada masa pemerintahan Umar merupakan fakta yang diakui
kebenarannya oleh para sejarahwan. Bahkan, ada yang mengatakan, bahwa jika
tidak karena penaklukan-penaklukan yang dilakukan.
DAFTAR PUSTAKA
Djamidin, Taufiq. 2009. Tragedi Pembunuhan Tiga Khalifah, Yogyakarta: Pinush Book Publisher.
Haekal, Muhammad Husain. 2007. Umar bin Khattab, Jakarta: Mitra Kerjaya Indonesia.
Jafariyah, Rasul. 2006. Sejarah Khilafah 11-35 H, Jakarta: Al-Huda.
Syalabi. 2003. Sejarah Dan Kebudayaan Islam, Jakarta: PT. Pustaka Al-Husna Baru.





0 komentar:
Posting Komentar