KATA
PENGANTAR
Hamdan syukran lillah atas segala karunia Allah yang
tidak dapat terbilang hanya dengan hitungan jari, karunia nikmat kesehatan
serta kesempatan sehingga penulis dapat menyelesaikan Makalah sederhana ini
walaupun banyak rintangan yang merintangi, sholatan wasalaman ‘alaika ya
rasulallah semoga senantiasa tersanjungkan kepada sang junjungan putra Abdullah
yang senantiasa menjadi sanjungan di sanubari seluruh ummat sepanjang zaman
yakni Nabi Agung sang revolusioner islam Muhammad SAW.
Kami
ucapkan banyak-banyak terimakasih kepada teman-teman kami yang telah membantu
dalam penyelesaian makalah ini dan tidak lupa pula dosen pengampu mata kuliah Studi
Al-hadist kami ucapkan banyak-banyak terimakasih.
Semoga
Allah SWT. memberikan balasan yang lebih besar dan menjadi amal sholeh yang
dapat diterima oleh Allah SWT.
Dengan
kerendahan hati, penulis menerima kritik dan saran yang konstruktif. Akhirnya,
tidak ada satupun yang sempurna kecuali Yang Maha Sempurna, Allah SWT.
BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Hadits merupakan pedoman kedua bagi umat islam
di dunia setelah Al – Qur’an, yang tentunya memiliki peranan sangat penting
pula dalam disiplin ajaran islam. Hadits atau yang lebih dikenal dengan sunnah
adalah segala sesuatu yang bersumber atau disandarkan kepada Nabi Muhammad SAW,
baik berupa perkataan, perbuatan.
Dengan demikian, keberadaan Al-Hadits dalam proses kodifikasinya
sangat berbeda dengan Al – Qur’an.Sejarah hadits dan periodesasi
penghimpunannya lebih lama dan panjang masanya dibandingkan dengan
Al-Qur’an.Al-Hadits butuh waktu 3 abad untuk pengkodifikasiannya secara
menyeluruh.Banyak sekali liku-liku dalam sejarah pengkodifikasian hadits yang berklangsung pada waktu itu.
Munculnya hadits – hadits palsu merupakan
alasan yang amat kuat untuk mengadakan kodifikasi hadits. Selain itu, kodifikasi hadits ketika itu di lakukan
karena para ulama hadits telah tersebar ke berbagai negeri, dikawatirkan hadits
akan menghilang bersama wafatnya mereka, sementara generasi penerus
diperkirakan tidak menaruh perhatian memelihara hadits, dan banyak berita –
berita yang diada – adakan oleh kaum penyebar bid’ah.
Atas dasar masalah yang diuraikan di atas
makalah ini disusun Disamping itu adalah untuk memenuhi tugas kelompok dalam
mata kuliah Ulumul Hadits.
B.
Rumusan
Masalah
1.
Penyebab
Kodifikasi Hadist Pada Abad Ke II
2. Hadist Pada Masa Ke-Iii Hijriah (Masa
Pemurnian, Penshahihan Dan Penyempurnaan Kodifikasi.)
3.
Hadist Pada Abad Ke-VI Sampai Ke-V (Masa
Pemeliharaan, Penertiban, Penambahan, Dan Penghimpunan)
4.
Periode
Mengklasifikasikan Dan Mensistematiskan Susunan Kitab-Kitab Hadist Abad Ke V
Sampai Sekarang
C.
Tujuan
Pembuatan Makalah
Mahasiswa
agar mengetahui perkembangan dan sejarah pembukuan hadist.
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
Penyebab
Kodifikasi Hadist Pada Abad Ke II
Dikala kendali khalifah dipegang oleh ‘Umar ibn Abdil Aziz yang dinobatkan dalam tahun 99 H., seorang
khalifah dari dinasti umayyah yang terkenal adil dan wara’, sehingga beliau
dipandang sebagai Khalifah Rasyidin yang kelima, tergeraklah hatinya untuk
membukukan hadits. Beliau sadar bahwa perawi yang membendaharakan hadits dalam dadanya, kian
lama kian banyak yang meninggal. Beliau khawatir apabila tidak segera dibukukan
dan kumpulkan dalam buku-buku hadits dari para perawinya, mungkinlah
hadits-hadits itu akan lenyap dari permukaan bumi
dibawa bersama oleh para penghafalnya kealam barzakh.
Selain itu motif utama Khalifah ‘Umar bin
‘Abdul ‘Aziz berinisiatif demikian
Adalah:
1. Kemauan beliau yang kuat untuk tidak
membiarkan Al-Hadits seperti waktu yang sudah-sudah. Karena beliau khawatir akan hilang dan lenyapnya Al-Hadits dari perbendaharaan masyarakat, disebabkan belum didewankannya dalam
dewan hadits.
2.
Kemauan
beliau yang keras untuk membersihkan dan memelihara Al-Hadits dari hadits –
hadits maudlu’ yang dibuat oleh orang-orang untuk mempertahankan idiologi
golongannyadan mempertahankan mazhabnya, yang mulai tersiar sejak awal
berdirinya kekhalifahan ‘Ali bin Abi Thalib r.a.
3. Alasan tidak terdewannya Al-Hadits secara resmi di zaman Rasulullah
saw. dan Khulafaur Rasyidin, karena adanya kekhawatiran bercampur aduknya
dengan Al -Quran, telah hilang, disebabkan Al-Qur’an telah dikumpulkan dalam
satu mush-af dan telah merata di seluruh pelosok. Ia telah dihafal di otak dan diresapkan di
hati sanubari beribu-ribu orang.
4. Kalau di zaman Khulafaur Rasyidin belum pernah
dibayangkan dan terjadi peperangan antara orang muslim dengan orang kafir,
demikian juga perang saudara orang-orang muslim, yang kian hari kian
menjadi-jadi, yang sekaligus berakibat berkurangnya jumlah ulama ahli hadits,
maka pada saat itu konfrontasi tersebut benar-benar terjadi.
Untuk menghilangkan kekhawatiran akan hilangnya Al-Hadits dan
memelihara Al-Hadits dari bercampurnya dengan hadits-hadits palsu, beliau
mengintruksikan kepada seluh pejabat dan ulama yang memegang kekuasaan di
wilayah kekuasaannya untuk mengumpulkan Al-Hadits terutama pada Abu bakar bin
Muhammad bin Amr bin Hazm (qadhi Madinah) dan Muhammad bin Muslim bin
Ubaidillah bin Abdullah bin Syihab az Zuhri al-Madani (tokoh ulama Hijaz dan
Syam 124H).
Setelah kedua tokoh ini maka mulailah banyak yang mengikuti mereka
seperti Ibnu Juraij (150-H) dan Ibnu Ishaq (151-H) di Makkah; Ma'mar (153-H) di
Yaman; al-Auza'i (156-H) di Syam; Malik (179-H), Abu Arubah (156-H) dan Hammah
bin Salamah (176-H) di Madinah; Sufyan ats-Tsauri (161-H) di Kufah; AbduLLAH
bin Mubarak (181-H) di Khurasan; Husyaim (188-H) di Wasith; Jarir bin abdul
Hamid (188-H) di Ray,dan Abdullah ibn Wahab (125 H ) di Mesir.
Kitab yang mahsyur pada saat itu adalah :
1.
Mushannaf oleh Syu'bah bin al-Hajjaj (160-H)
2.
Mushannaf oleh Al-Laits bin Sa'ad (175-H)
3.
Al-Muwaththa' oleh Malik bin Anas al-Madani, Imam Darul Hijrah (179-H).
4.
Mushannaf oleh Sufyan bin Uyainah (198-H)
5.
Al-Musnad al Syafi’i oleh Imam
asy-Syafi'i (204-H)
6.
Al-Sirat an Nabawiyah oleh Ibn Ishaq.
B. Hadist Pada Masa Ke-Iii Hijriah (Masa
Pemurnian, Penshahihan Dan Penyempurnaan Kodifikasi.)
Periode ini berlangsung pada masa Pemerintahan
Khalifah Al Ma’mun sampai pada awalpemerintahan khalifah Al-Muqtadir dari
kekhalifahan Dinasti Abbasiyah. Pada masa ini ulama memusatkan perhatian mereka
pada pemeliharaan keberadaan dan terutama kemurnian Hadist Nabi SAW, sebagai
antisipasi mereka terhadap pemalsuan Hadist yang semakin marak.
1. Kegiatan pemalsuan hadist
Pada
abad ke-II hijriah telah banyak melahirkan para Imam Mujtahid di berbagai
bidang, diantaranya dibidang Fiqih dan Ilmu Kalam. Meskipun dalam beberapa hal
mereka berbeda pendapat, akan tetapi mereka saling merhormati. Akan tetapi
memasuki abad ke-3 Hijriah , para pengikut masing-masing imam berpendapat bahwa
imam nya lah yang benar, sehingga menimbulkan bentrokan pendapat yang semakin
meruncing. Diantara pengikut fanatik akhirnya menciptakan hadist-hadist palsu
dalam rangka memaksakan pendapat mereka.
Dan
setelah Khalifah Al Ma’mun berkuasa mendukung golongan Mu’tazilah. Perbedaan
pendapat tentang kemakhlukan Al Qur’an dan siapa yang tidak sependapat akan
dipenjara dan disiksa, salah satu Imam yaitu Imam Ahmad Bin Hambal yang tidak
mengakuinya. Setelah pemerintahan Al Muwakkil, maka barulah keadaan berubah
positif bagi ulama.
2. Upaya pelestarian hadist
Diantara
kegiatan yang dilakukan oleh para ulama Hadist dalam rangka memelihara
kemurnian Hadist Rasulullah SAW adalah :
a.
Perlawatan
ke daerah-daerah
b.
Pengklsifikasian
Hadist kepada : Marfu’ (disandarkan kepada Nabi Muhammad Saw), Mawquf
(disandrkan kepada sahabat ), dan Maqthu’( disandarkan kepada tabi;in ).
c.
Penyeleksian
kualitas Hadist dan pengklasifikasian kepada : Shahih, Hasan, Dha’if.
3. Tokoh-tokoh Pengumpul Hadist
Diantara tokoh-tokoh Hadist yang lahir pada masa ini adalah :Ali
Ibn Madany, Abu Hatim Ar Razy, Muhammad Ibn Jarir ath Thabary, Muhammad Ibn
Sa’ad, Ishaq Ibn Rahawaih, Ahmad, Al Bukhari Muslim, An Nasa’I, Abu Daud, At
Turmudzy, Ibnu Majah, Ibnu Qutaibah Ad Dainury
4. Bentuk penyusunan Kitab hadist pada Abad ke III Hijriyah
a.
Kitab
Shahih, kitab ini hanya menghimpun hadist-hadist sahih,sedangkan yang tidak
shahih tidak dimasukkan kedalamnya.Penyusunannya berbentuk Mushannaf, Yaitu
penyajian berdasarkan bab masalah tertentu. Hadist yang dihimpun menyangkut
masalah fiqh ,aqidah ,akhlak ,sejarah dan tafsir .Contoh : sahih Muslim dan
sahih Bukhari.
b.
Kitab
Sunan. Didalam kitab ini dijumpai hadist yang sahih dan juga hadit dhaif yang
tidak terlalu lemah dan mungkar.Terhadap hadist dhaif dijelaskan sebab
kedhaifannya. Bentuk penyusunannya berbentuk Mushannaf dan hadistnya terbatas
hanya pada masalah fiqh . Contoh : Sunan Abu Dawud, Sunan at Turmidzi, Sunan al
Nasai, Sunan Ibn Majah dan Sunan al Darimi.
c.
Kitab
Musnad. Didalam kitab ini hadist disususn berdasrkan nama perawi pertama.
Urutan nama perawi pertama ada yang berdasrkan nabi kabilah seperti bani hasyim
dsb. Ada juga yang berdasarkan nama sahabat berdasrkan urutan waktu memeluk
Islam,dan ada yang berdasarkan hijaiyah dll. Contoh : Musnad Ahmad ibn Hanbal,
Musnad Abu qasim Albaghawi, dan musnab ustman ibn abi syaibah.
C.
Hadist Pada Abad Ke-VI Sampai Ke-V (Masa Pemeliharaan, Penertiban, Penambahan, Dan Penghimpunan).
1. Kegiatan periwayatan Hadist pada periode
ini.
Periode ini dimulai pada masa Khlifah Al Muktadir
sampai Khalifah Al Muktashim. Meskipun kekuasaan Islam Pada periode ini mulai
melemah dan bahkan mengalami keruntuhan pada abad ke-7 Hijriah akibat serangan
Hulaqu Khan, Cucu dari Jengis Khan. Kegiatan para Ulama Hadist tetap berlansung
sebagaimana periode-periode sebelumnya, hanya saja hadist-hadist yang dihimpun
pada periode ini tidaklah sebanyak penghimpunan pada periode-periode
sebelumnya, kitab-kitab hadist yang dihimpun pada periode ini diantaranya
adalah :
a.
Al-Shahih
oleh Ibn Khuzaimah.(313 H)
b.
Al
-Anma’wa al Taqsim oleh Ibn Hibban (354 H)
c.
Al-Musnad
oleh Abu Amanah ( 316 H)
d.
Al-Mustaqa
oleh Ibn Jarud.
e.
Al-Mukhtarah oleh Muhammad Ibn Abd Al Wahid al
Maqdisi.
Setelah Lahirnya karya-karya diatas maka kegiatan para ulama
berikutnya pada umumnya hanyalah merujuk pada karya–karya yang telah ada dengan
bentuk kegiatan mempelajari, menghafal, memeriksa dan menyelidiki
sanad-sanadnya dan matannya.
2. Bentuk Penyusunan Kitab Hadist pada masa
periode ini:
Para Ulama Hadist Periode ini memperkenalkan sitem
baru dalam penusunan Hadist , yaitu:
a.
Kitab
Athraf, didalam kitab ini penyusunannya hanya menyebutkan sebagian matan hadist
tertentu, kemudian menjelaskan seluruh sanad dari matan itu, baik dari sanad
kitab hadist yang dikutib matannya ataupun dari kitab-kitab lainya contohnya:
1)
Athraf
Al Shahihainis, oleh Al Dimasyqi (400 H)
2)
Athraf
Al Shahihainis, oleh Abu Muhammad khalaf Ibn Muhammad al Wasithi (401 H)
3)
Athraf Al Sunnah al arrba’ah, oleh Ibn Asakir
al dimasyqi (571 H)
4)
Athraf
Al Kutub al Sittah, oleh Muhammad Ibn Tharir al Maqdisi ( 507 H)
b.
Kitab
Mustadhrak, Kitab ini memuat matan Hadist yang diriwayatkan oleh Bukhari atau
Muslim, atau keduanya atau lainnya, dan selanjutnya penyusun kitab ini
meriwayatkan matan hadist tersebut dengan sanadnya sendiri, conntoh :
1)
Mustadhrak
Shahih Bukhari , oleh Jurjani
2)
Mustadhrak
Shahih Muslim, oleh Abu Awanah (316 H)
3)
Mustadhrak
Bukhari Muslim, oleh Abu bakar Ibn Abdan al Sirazi (w.388 H)
c.
Kitab
Mustadhrak, Kitab ini menghimpun hadist-hadist yang memiliki syarat-syarat
Bukhari dan Muslim atau yang memiliki salah satu dari keduanya, contoh
4)
Al Mustdhrak oleh Al Hakim ( 321-405 H)
5)
Al
Ilzamat , oleh Al Daruquthni (306-385 H)
d.
Kitab
Jami’, Kitab ini menghimpun Hadist-hadist yang termuat dalam kitab-kitab yang
telah ada yaitu yang menghimpun hadsit shahih Bukhari dan Muslim. Contohnya :Al
Jami’ bayn al Shahihaini , oleh Ibn Al Furat ( Ibn Muhammad Al Humaidi (w.414
H)).,Al Jami’ bayn al Shahihaini, oleh Muhammad Ibn Nashir al Humaidi (488
H),Al Jami’ bayan al Shahihaini, oleh Al Baqhawi (516 H).
D.
Periode
Mengklasifikasikan Dan Mensistematiskan Susunan Kitab-Kitab Hadist Abad Ke V
Sampai Sekarang
Usaha ulama ahli hadits pada abad ke V sampai sekarang adalah
ditujukan untuk mengklasifikasikan Hadits dengan menghimpun hadits-hadits yang
sejenis kandungannya atau sejenis sifat-sifat isinya dalam satu kitab hadits.
Disamping itu mereka pada men-syarahkan dan mengikhtishar kitab-kitab hadits yang
telah disusun oleh ulama yang mendahuluinya. seperti yang dilakukan oleh Abu
'Abdillah al-Humaidi (448 H.) adapun contoh kitab-kitab hadits pada periode ini
antara lain:
1. Sunan al-Kubra, Karya abu Bakar Ahmad bin Husain 'Ali al-Baihaqy
(384-458 H.)
2. Muntaqa al-Akhbar, karya Majduddin al-Harrany (652 H.)
3. Fathu al-Bari Fi Syarhi al-Bukhari, Karya Ibnu Hajar al-'Asqolany
(852 H.).
4. Nailu al-Awthar, Syarah kitab Muntaqa al-Akhbar, karya al-Imam
Muhammad bin Ali al-Syaukany (1172- 1250 H.)
Hadits dimasa
abad V H sampai sekarang hanya ada sedikit tambahan dan modifikasi kitab-kitab
terdahulu. Sehingga karya-karya ulama hadits abad kelima lebih luas, simple dan
sistematis. Diantara mereka adalah :
1. Abu Abdillah al-Humaidi tahun 448 H beliau mengumpulkan 2 kitab
sahih sesuai urutan sanad.
2. Abu Sa’adah Mubarak bin al-‘Asyir tahun 606 H beliau mengumpulkan
enam kitab hadis dengan urutan bab.
3. Nuruddin Ali al-Haitami beliau melengakapi 6 kitab dengan
karangan-karangan lain ( selain kutub
al-sittah ).
4. Al-Suyuthi tahun 911 H beliau menulis kitab yang berjudul al-Jami
al-Kabir
Dan muncul pula Kitab-kitab hadits targhib dan tarhib, seperti :
1. Al-Targhib wa al-Tarhib, karya al-Imam Zakiyuddin Abdul ‘Adzim
al-Mundziry (656 H.)
2. Dalailu al-falihin, karya al-Imam Muhammad Ibnu ‘Allan al-Shiddiqy
(1057 H.) sebagai kitab syarah Riyadu al-Shalihin, karya al-Imam Muhyiddin abi
zakaria al-Nawawawi (676 H.)
Pada periode
ini para ulama juga menciptakan kamus hadits untuk mencari pentakhrij suatu
hadits atau untuk mengetahui dari kitab hadits apa suatu hadits didapatkan,
misalnya :
1. Al-Jami’u al-Shaghir fi Ahaditsi al-Basyiri al-Nadzir , karya
al-Imam Jalaluddin al-Suyuthy (849-911 H.)
2. Dakhairu al-Mawarits fi Dalalati ‘Ala Mawadhi’i al-Ahadits, karya
al-Imam al-‘Allamah al-Sayyid Abdul Ghani al-Maqdisy al-Nabulisy.
3. Al-Mu'jamu al-Mufahras Li al-Alfadzi al-Haditsi al-Nabawy, Karya
Dr. A.J. Winsinc dan Dr. J.F. Mensing.
4. Miftahu al-Kunuzi al-Sunnah, Karya Dr. A.J. Winsinc.
BAB
III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Dari uraian
diatas dapat disimpulkan bahwa :
1.
Penyebab
dari Kodifikasi Hadist itu sendiri dikarenakan telah banyaknya para sahabat,
atau ulama penghapal hadist yang meninggal dunia.
2.
Penyebab
Kedua adalah banyaknya beredar Hadist-hadist palsu sehingga perlunya kodifikasi
hadist yang mulai dilaksanakan secara perdana dan massal pada masa pemerintahan
Khalifah Umar Ibn Abdil Aziz. Yang mereka hanya memperkuat eksistensi golongan
dan ras mereka saja.
3.
Pada
Kodifikasi Hadist ini melahirkan berbagai ulama dan tokoh-tokoh Seperti yang
kita kenal sampai sekarang yaitu Perawi Hadist-hadist shahih seperti Imam
Bukhari dan Muslim, Athurmudzi, Suanan Abu Daud, dan lain-lain yang masih banyak lagi.
Dari sejarah kodifikasi
hadist ini, kita bisa mengetahui kapan masa jaya, kapan masa kodifikasi yang
banyak memunculkan para ulama ahli hadist yang banyak memhasilkan kitab-kitab
hadist dan pada masa periode siapa kitab-kitab hadist shahih bermunculan, mulai
dari pertama kali di kodifikasi sampai pada masa periode terakhir kemunduran
islam itu sendiri
DAFTAR
PUSTAKA
Muhammad Bin Alwi al-Maliki, (al-Manhalu al-Lathif Fi Ushuli
al-Hadits al-Syarif). al-Sahr. tt. Jeddah. hlm 19-20.
Dr. Muhammad Ajjaj al-Khothib, (Ushulu al-Hadits Ulumuhu Wa
Mushthalahuhu), Daru al-Fikr.
tt.Beirut. hlm. 170
Drs. H. Mudasir (Ilmu Hadis), 2008 M./1429 H.Pustaka Setia.
Surabaya. hlm.105
Dr. Muhammad Ajjaj al-Khothib, (Opcit). hlm. 172
Muhammad Bin Alwi al-Maliki, (Opcit), hlm 22
Drs. H. Mudasir (Ilmu Hadis) ; 2008 M./1429 H.Pustaka Setia.
Surabaya. hlm.109





0 komentar:
Posting Komentar