BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Dari banyaknya buku sejarah yang
kita baca dan informasi-informasi yang kita telah dapatkan, para ahli sejarah
telah mencatat banyak hal tentang perkembangan peradaban Islam khususnya
pertengahan abad ke-8 M hingga permulaan abad ke-13 M. Sejarah peradaban islam
telah dicatat dalam sejarah, bahwa pada masa tersebut Islam pernah mengalami
masa kejayaan. Kejayaan Islam ini diperlihatkan dengan berbagai
kemajuan-kemajuan dalam banyak bidang seperti bidang ilmu pengetahuan, politik,
ekonomi, teknologi dan masih banyak yang lainnya. Kemajuan-kemajuan itu terjadi
baik dari Daulah Islam di Timur (Daulah Abbasiah) yang berpusat di Baghdad
maupun Islam di Barat (Daulah Umayyah) yang berpusat di Cordoba.
Di masa khilafah Bani Umayyah yang
berumur kurang lebih 90 tahun telah mencapai keberhasilan ekspansi ke berbagai
daerah, baik di Timur maupun di Barat dengan wilayah kekuasaan Islam yang
benar-benar sangat luas. Pada zaman khalifah al-Walid Ibn al-Malik, salah satu
khalifah dari Bani Umayyah yang berpusat di Damaskus, umat Islam mulai
menaklukan semenanjung Iberia. Semenanjung Iberia adalah nama tua untuk wilayah
Spanyol dan Portugal. Sejak awal abad 5 Masehi (tahun 406 M), wilayah tersebut
dikuasai oleh bangsa Vandals, maka dinamakan Vandalusia. Namun, sejak tahun 711
M, semenanjung Iberia dan wilayah selatan Prancis jatuh ke dalam kekuasaan
Islam, diperintah oleh pembesar-pembesar Arab dan Barbar. Sejak itulah, wilayah
ini dikenal dengan Andalusia.
Spanyol merupakan tempat paling
utama dan jembatan emas bagi Eropa dalam menyerap peradaban Islam dan
hasil-hasil kebudayaan Islam, baik dalam bentuk hubungan politik, social,
perekonomian, maupun peradaban antarnegara. Orang-orang eropa menyaksikan
kenyataan bahwa Spanyol berada dibawah kekuasaan Islam jauh meninggalkan
negara-negara tetangga Eropa, terutama dalam bidang pemikiran dan sains.
Kemajuan Eropa yang terus berkembang hingga saat ini banyak berhutang budi
kepada khazanah ilmu pengetahan Islam yang berkembang di periode klasik.
Maka pada makalah ini, kami akan
mencoba membahas secara gamblang mengenai bagaimana peradaban Islam di
Andalusia. Tentu Islam membawa banyak peranan penting bagi khazanah peradaban
di Andalusia (Spanyol). Banyak perubahan-perubahan drastis setelah masuknya
Islam di Andalusia yang patut kita tahu dan cermati sebagai pemikir umat Islam.
Memang banyak saluran bagaimana peradaban Islam mempengaruhi Eropa, tetapi
saluran yang terpenting adalah Spanyol Islam.
Dalam bab pembahasan makalah ini,
sebelum kami mengkaji kebangkitan kebudayaan Islam di Andalusia, tidak ada
salahnya kita perlu meninjau terlebih dahulu tentang situasi di Andalusia
sebelum Daulah Umayyah berdiri disana. Untuk itu, kami memaparkan di dalam
makalah kami secara gamblang tentang hal tersebut.
B.
Rumusan Masalah
1.
Bagaimana
proses masuknya islam di Andalusia ?
2.
Bagaimana
perkembangan peradaban dan pemerintah politik di Andalusia sebelum dan sesudah
masuknya islam ?
3.
Bagaimana
sistem pemerintahan masa-masa kekhalifaan di Andalusia ?
C.
Tujuan Pembuatan Makalah
Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah untuk memberikan
pengetahuan keislaman dalam peradaban Andalusia setelah masuknya islam bagi
para pembaca. Dimana kita bisa cermati perbedaan peradaban antara sebelum
masuknya islam di Andalusi.
Kami sangat berharap makalah ini dapat bermanfaat untuk menjadi
bahan penambah informasi tentang peradaban Islam, khususnya peradaban Islam di
Andalusia.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Sejarah Masuknya Islam Di Andalusia
Spanyol
diduduki oleh umat Islam pada zaman khalifah Al-Walid (705-715 M), salah
seorang khalifah dari Bani Umayyah yang berpusat di Damaskus. Sebelum
penaklukan Spanyol, umat islam telah menguasai Afrika Utara dan menjadikannya
sebagai salah satu provinsi dari dinasti umayyah. Penguasaan sepenuhnya atas
Afrika Utara itu terjadi di zaman Khalifah Abdul Malik (685-705 M). Khalifah
Abdul Malik mengangkat Hasan bin Nu’man Al-Ghassani menjadi Gubernur di daerah itu.
Pada masa khalifah Al-Walid, Hasan bin Nu’man sudah digantikan oleh Musa bin
Nushair. Di zaman Al-walid itu, Musa bin Nushair memperluas wilayah kekuasaanya
dengan menduduki Aljazair dan Maroko. Selain itu, ia menyempurnakan penaklukan
ke daerah-daerah bekas kekuasaan bangsa Barbar di pegunungan-pegunungan,
sehingga mereka menyatakan setia dan berjanji akan membuat kekacauan-kekacauan
seperti yang pernah mereka lakukan sebelumnya.
Dalam
proses penaklukan Spanyol ada 3 pahlawan Islam yang memimpin pasukan kesana
yakni Tharif ibn Malik, Thariq ibn Ziyad, dan Musa ibn Nushair. Namun, yang
sebagai perintis dan penyelidik kedatangan Islam ke Andalusia adalah Tariq ibn
Ziyad. Ia yang telah memimpin pasukan tentera menyeberangi lautan Gibralta
(Jabal Thariq) menuju ke semenanjung Iberia. Musa ibn Nushair pada tahun
711 M, mengirim pasukan Islam dibawah pimpinan Thariq bin Ziyad yang hanya
berjumlah 7000 orang dan tambahan pasukan 5000 personel yang memang tak
sebanding dengan tentera pasukan Gothik yang berkekuatan 100.000 lengkap
bersenjata. Namun, pada akhirnya, Thariq bin Ziyad mencapai kemenangan, dengan
mengalahkan Raja Foderick di Bakkah dan menaklukan kota-kota penting seperti
Cordova, Granada, Toledo dan hingga akhirnya menguasai seluruh kota penting di Spanyol.
Kemenangan-kemenangan
Islam terlihat nampak begitu mudah. Tentu hal ini didorong oleh faktor-faktor
baik karena tokoh-tokoh pejuang dan prajurit Islam yang kuat, kompak dan penuh
percaya diri dan juga didorong oleh faktor-faktor yang menguntungkan Islam
yakni kondisi sosial, politik dan ekonomi Spanyol yang buruk pada waktu itu.
B.
Perkembangan Politik, Peradaban Dan Intelektual
1.
Perkembangan
Politik
Sejarah
panjang yang dilalui umat islam di Spanyol itu dapat di bagi menjadi beberapa
periode:
a.
Periode
pertama (gerakan pembebasan)
Periode
pertama ini antara tahun 711-755 M, Andalus diperintah oleh para wali yang
diangkat oleh khalifah bani Umayah yang berpusat di Damaskus. Pada periode ini
stabilitas politik negeri Spanyol belum tercapai secara sempurna,
gangguan-gangguan masih terjadi, baik datang dari dalam maupun dari luar.
Gangguan dari dalam antara lain berupa perselisihan di antara elit penguasa,
terutama akibat perbedaan etnis dan golongan. Adapun gangguan dari luar datang
dari sisa-sisa musuh Islam di Spanyol yang bertempat tinggal di daerah-daerah
pegunungan yang memang tidak pernah tunduk kepada pemerintahan Islam.
b.
Periode
kedua
Periode
ini antara tahun 755-1013 M pada waktu Andalus dikuasai oleh daulah Umayyah II.
Periode ini dibagi dua:
1)
Masa
Keamiran
Pada
masa ini, spanyol berada di bawah pemerintahan seorang yang bergelar amir
(panglima atau gubernur) tetapi tidak tunduk kepada pusat pemerintahan Islam,
yang ketika itu dipegang oleh khalifah Abbasyiah di Baghdad.
Sebagaimana
telah diceritakan dalam sejarah Islam bahwa
pada tahun 750 M kerajaan bani Umayyah dapat direbut oleh bani
Abbasyiah. Naiknya bani Abbasyiah dalam tahta kerajaan diikuti dengan
pembunuhan dan penumpasan terhadap keluarga bani Umayyah, hanya sedikit
warganya yang lolos dari peristiwa tersebut, diantaranya Abd al-Rahman yang
dikenal dalam sejarah Abd al-Rahman al-Dakhil artinya Abd al-Rahman yang lolos
dari pembantaian bani Abbasyiah. Dengan kecerdikannya, ia dapat mendirikan
kerajaan baru di sana, dan menyebabkan Al-Manshur (pendiri Daulah Abbasiyah)
menjadi kagum dan memberinya gelar “Sakhar Quraisy” (garuda kaum Quraisy).
Masa
keamiran tahun 755-912 M. Masa ini dimulai ketika Abd al-Rahman al-Dakhil,
seorang keturunan bani Umayyah I yang berhasil menyelamatkan diri dari
pembunuhan yang dilakukan bani Abbas di Damaskus, mengambil kekuasaan di
Andalus pada masa Amir Yusuf al-Fihr. Ia kemudian memproklamirkan berdirinya
daulah Umayyah II di Andalus kelanjutan Umayyah I di Damaskus.
2)
Masa
Kekhalifahan
Masa
kekhalifahan tahun 912-1013 M, masa ini mencapai puncaknya di bawah kekuasaan
pemerintahan amir kedelapan, ‘Abd al-Rahman III (912-961), orang pertama yang
menyandang gelar Khalifah. Ia menggelari diri dengan khalifah al-Nashir li
Dinillah. Spanyol telah mencapai puncak kejayaannya di bawah para penguasa
daulah Umayyah, Abd al-Rahman III (912-961 M), al-Hakam II (961-976 M). Pada
waktu itu, ibukota Cordova menyala bagaikan cahaya kilau-kemilau di dalam
gelapnya daratan Eropa dan dengan Baghdad dan Konstantinopel dapat
diperkerikakan sebagai salah satu daripada tiga pusat peradaban dunia. Selama
periode Umayyah, Cordova di Spanyol tetap menjadi ibukota dan menikmati periode
kemegahan yang tiada tandingannya, seperti pesaingnya di Irak (Baghdad).
Awal
dari kehancuran khilafah bani Umayyah di Spanyol adalah ketika Hisyam II
(976-1009 M), naik tahta dalam usia sebelas tahun. Oleh karena itu kekuasaan
aktual berada di tangan para pejabat. Pada tahun 981 M, Khalifah menunjuk Ibn
Abi amir sebagai pemegang kekuasaan secara mutlak. Dia seorang yang ambisius
yang berhasil menancapkan kekuasaannya dan melebarkan wilayah kekuasaan Islam
dengan menyingkirkan saingan-saingannya. Atas keberhasilan tersebut, ia
mendapat gelar al-Manshur Billah. Ia wafat pada tahun 1002 M dan digantikan
oleh anaknya al-Muzaffar yang masih dapat mempertahankan keunggulan kerajaan.
Akan tetapi, setelah wafat pada tahun 1008 M, ia digantikan oleh adiknya yang
tidak memiliki kualitas bagi jabatan itu. Dalam beberapa tahun saja, Negara
yang tadinya makmur dilanda kekacauan dan akhirnya kehancuran total.
Pada
tahun 1009 M khalifah mengundurkan diri dan beberapa orang yang dicoba untuk
menduduki jabatan itu tidak ada yang sanggup memperbaiki keadaan. Akhirnya pada
tahun 1013 M, Dewan Menteri yang memerintah Cordova menghapus jabatan Khalifah.
Ketika itu, Spanyol sudah terpecah dalam banyak sekali Negara kecil yang
berpusat di kota-kota tertentu.
c.
Periode
ketiga
Periode
ketiga ini antara tahun 1013-1492 M, ketika umat Islam Andalus terpecah dan
menjadi kerajaan-kerajaan kecil. Periode ini dibagi menjadi tiga masa:
1)
Masa
kerajaan-kerajaan kecil yang sifatnya lokal tahun 1013-1086 M. Pada masa ini,
Spanyol terpecah menjadi lebih dari tiga puluh Negara kecil dibawah
pemerintahan raja-raja golongan, masa ini disebut Muluk al-Thawaif, yang
berpusat di suatu kota seperti Seville, Cordova, Toledo dan sebagainya. Pada
masa ini umat Islam Spanyol kembali memasuki masa pertikaian intern. Ironisnya,
kalau terjadi perang saudara, ada di antara pihak-pihak yang bertikai itu yang
meminta bantuan kepada raja-raja Kristen. Melihat kelemahan dan kekacauan
tersebut, orang-orang Kristen mulai mengambil inisiatif penyerangan. Meskipun
kehidupan politik tidak stabil, namun kehidupan intelektual terus berkembang
pada masa ini.
2)
Masa
antara tahun 1086-1235 M, pada masa ini, Spanyol Islam meskipun masih terpecah
dalam beberapa Negara, tetapi terdapat satu kekuatan yang dominan yaitu dinasti
Murabithun (1086-1143 M) dan dinasti Muwahhidun (1146-1235 M). Dinasti
Murabithun pada mulanya adalah sebuah gerakan agama yang didirikan bangsa
Barbar di Afrika Utara dipimpin oleh Yusuf ibn Tasyfin. Dinasti ini datang ke
Andalus mengusir umat Kristen yang menyerang Sevilla pada tahun 1086 M, tetapi
menggabungkan Muluk al-Thawaif ke dalam dinasti yang dipimpinnya sampai tahun
1143 M, ketika dinasti ini melemah digantikan oleh dinasti Barbar lain
Al-Muwahhidin (1146-1235 M). Dinasti ini datang ke Andalus dipimpin Abd
al-Mu’min. Pada masa putranya Abu ya’kub Yusuf bin Abd al-Mu’min (1163-1184 M)
Andalus mengalami masa kejayaan. Namun sepeninggal Sultan ini Al-Muwahhidin
mengalami kelemahan. Bersamaan dengan kelemahan yang dialami kaum muslimin,
gerakan reconquista atau pengambilan kembali wilayah-wilayah dari tangan Muslim
oleh pasukan Kristen telah dimulai yaitu ditandai dengan kekalahan kaum
Muslimin yang fatal di pertempuran Las Navas de Tolosa pada tahun 608 H/1212 M.
Kekalahan-kekalahan yang dialami Muwahhidun menyebabkan penguasanya memilih
untuk meninggalkan Spanyol dan kembali ke Afrika Utara tahun 1235 M. Dalam
kondisi demikian, umat Islam tidak mampu bertahan dari serangan-serangan
Kristen yang semakin besar. Tahun 1238 M Cordova jatuh ke tangan penguasa
Kristen dan Seville jatuh tahun 1248 M, seluruh Spanyol lepas dari kekuasan
Islam, kecuali Granada yang dikuasai oleh bani Ahmar sejak tahun 1232 M.
3)
Masa
antara tahun 1232-1492, ketika umat Islam Andalus bertahan di wilayah Granada
di bawah kuasa dinasti bani Ahmar. Pendiri dinasti ini adalah Sultan Muhammad
bin Yusuf bergelar al-Nasr, oleh karena itu kerajaan ini disebut juga
Nasriyyah. Kerajaan ini merupakan kerajaan terakhir umat Islam Andalus yang
berkuasa di wilayah antara Almeria dan Gibraltar, pesisir Tenggara Andalus.
Dinasti ini dapat bertahan karena dilingkupi oleh bukit sebagai pertahanan dan
mempunyai hubungan yang dekat dengan negeri Islam Afrika Utara yang waktu itu
di bawah kerajaan Marin. Ditambah lagi Granada tempat berkumpulnya pelarian dan
umat Islam dari wilayah selain Andalus ketika wilayah itu dikuasai tentara
Kristen. Oleh karena itu, dinasti ini pernah mencapai kemajuan diantaranya
membangun istana Al-Hambra. Namun pada dekade terakhir abad XIV M dinasti ini
telah lemah akibat perebutan kekuasaan. Kesempatan ini dimanfaatkan oleh
kerajan Kristen yang telah mempersatukan diri melalui pernikahan antara
Isabella dari Aragon dengan raja Ferdinand dari Castilla untuk bersama-sama
merebut kerajaan Granada. Pada tahun 1487 mereka dapat merebut Malaga, tahun
1489 menguasai Almeria, tahun 1492 menguasai Granada. Raja terakhir Granada,
Abu Abdullah, melarikan diri ke Afrika Utara.
2.
Perkembangan
peradaban
Kemajuan
Bani Umayyah di Andalusia diraih pada masa pengganti Abd al-Rahman al-Dakhil.
Kemajuan Kordova ditandai dengan pembangunan yang megah diantaranya:
a)
Perkembangan
pembangunan
1)
al-Qashr
al-Kabir , kota satelit yang didalamnya terdapat gedung-gedung istana megah.
2)
Rushafat,
istana yang dikelilingi oleh taman yang di sebelah barat laut Cordova.
3)
Masjid
jami’ Cordova, dibangun tahun 170 H/786 M yang hingga kini masih tegak.
4)
Al-Zahra,
kota satelit di bukit pegunungan Sierra Monera pada tahun 325 H/936 M. Kota ini
dilengkapi dengan masjid tanpa atap (kecuali mihrabnya) dan air mengalir
ditengah masjid, danau kecil yang berisi ikan-ikan yang indah, taman hewan
(margasatwa), pabrik senjata, dan pabrik perhiasan.
b)
Perkembangan
Ekonomi
Perkembangan
baru spanyol juga didukung oleh kemakmuran ekonomi pada abad ke-9 dan abad
ke-10. Perkenalan dengan pertanian irigasi yang didasarkan pada pola-pola
negeri Timur mengantarkan pada pembudidayaan sejumlah tanaman pertanian yang
dapat diperjual-belikan , meliputi buah ceri, apel, buah delima, pohon ara,
buah kurma, tebu, pisang, kapas, rami dan sutera. Pada saat yang sama, Spanyol
memasuki fase perdagangan yang cerah lantaran hancurnya penguasaan armada
Bizantium terhadap wilayah barat laut Tengah. Beberapa kota seperti seville dan
Cordova mengalami kemakmuran lantaran melimpahnya produksi pertanian dan
perdagangan internasional.
c)
Perkembangan
intelektual
Masyarakat
Spanyol Islam merupakan masyarakat majemuk yang terdiri dari
komunitas-komunitas Arab (Utara dan Selatan), al-Muwalladun (orang-orang
spanyol yang masuk Islam), Barbar (umat Islam yang berasal dari Afrika Utara),
al-Shaqalibah (penduduk daerah antara Konstantinopel dan Bulgaria yang menjadi
tawanan Jerman dan dijual kepada penguasa Islam untuk dijadikan tentara
bayaran), Yahudi, Kristen Mujareb yang berbudaya Arab, dan Kristen yang masih
menentang kehadiran Islam. Semua komunitas itu, kecuali yang terakhir,
memberikan sumbangan intelektual terhadap terbentuknya lingkungan budaya
Andalusia yang melahirkan kebangkitan llmiah, sastra, dan pembangunan fisik di
Spanyol. Disamping dari faktor kemajemukan masyarakatnya, negeri yang subur
juga mendorong negeri Spanyol dalam mendatangkan penghasilan ekonomi yang
tinggi dan pada gilirannya banyak menghasilkan pemikir. Berikut dibawah ini
uraian mengenai perkembangan intelektual di masing-masing bidang:
1)
Astronomi
Di
bidang astronomi, sarjana Islam al-Khawarizmi banyak sekali memberikan
sumbangannya dengan karya-karyanya dan mempunyai pengaruh terbesar terhadap
kontribusi ilmu pasti diantara semua penulis di abad pertengahan. Ia menulis
buku al Jabr wa al-Muqabalah, yang memuat daftar astronomi yang tertua dan
al-Khwarizmi merupakan orang pertama yang menyusun buku ilmu berhitung dan
aljabar.
Namun disamping
itu, tokoh yang paling terkenal dalam ilmu astronomi adalah Ibrahim ibn Yahya
al-Naqqash. Ia dapat menentukan waktu terjadinya gerhana matahari dan
menentukan berapa lamanya. Ia juga berhasil membuat teropong modern yang dapat
menentukan jarak antara tata surya dan bintang. Ada pula Al-majiriyah dari
Cordova, al-Zarqali dari Toledo dan Ibn Aflah dari Seville, merupakan para
pakar ilmu perbintangan yang sangat terkenal saat
itu.
.
2)
Matematika
Ilmu
eksakta yakni matematika mulai berkembang karena didorong dengan adanya
perkembangan filsafat. Ilmu pasti dikembangkan orang Arab berasal dari buku
India yaitu Sinbad, yang diterjemahkan dalam bahasa Arab oleh Ibrahim al-fazari
(154 H/ 771 M). Dengan perantara buku ini, kemudian Nasawi seorang pakar
matematika memperkenalkan angka-angka India seperti 0,1, 2, hingga 9), sehingga
angka-angka India di Eropa lebih dikenal dengan angka Arab.
3)
Filsafat
Sumbangan
Islam dalam filsafat tak kurang pula terhadap dunia Barat. Minat filsafat dan
ilmu pengetahuan mulai dikembangkan pada abad ke-9 M di masa Khilafah Bani
Umayyah, Muhammad ibn Abd al-Rahman (832-886 M). Karya-karya ilmiah dan
filosofis dalam jumlah besar diimpor dari Timur, sehingga Cordova menjadi
perpustakaan dan universitas besar yang dapat menyaingi Baghdad sebagai pusat
utama ilmu pengetahuan didunia Islam. Dalam keadaan ini, maka Spanyol banyak
melahirkan filosof-filosof besar.
Tokoh
pertama dalam sejarah filsafat Arab-Spanyol adalah Abu Bakr Muhammad ibn
al-Sayigh (Ibn Bajjah). Ia lahir di Saragosa, lalu pindah ke Sevilla dan
Granada. Ia bersifat etis dan eskatologi dalam masalah yang dikemukakannya
seperti al-Farabi dan Ibn Sina. Magnum opusnya adalah tadbir
al-Mutawahhid.Tokoh kedua adalah Abu Bakr ibn Thufail, penduduk asli Wadi Asy
(sebuah dusun kecil disebelah timur Granada. Karya filsafatnya yang sangat
terkenal adalah Hay ibn Yaqzhan.
Abad
12 sampai abad 16, aliran Ibn Rusyd (1126-1198 M) mendominasi lapangan filsafat
di Iberia dan Eropa. Ibn Rusyd dari Cordova ini, dikenal sebagai komentator
pikiran-pikiran Aristoteles sehingga dijuluki Aristoteles II. Ia juga memiliki
ciri kehati-hatian dalam menggeluti masalah-masalah tentang keserasian filsafat
dan agama. Sedang al-Kindi terkenal dengan menggabungkan dalil-dalil Plato dan
Aristoteles dengan cara Neo-Platonis.
4)
Kedokteran
Ada
banyak sumbangan Islam yang sangat menonjol dan telah menjadi dasar kemajuan
Barat dalam ilmu kedokteran. Dokter Islam, al-Kindi (809-873 M), telah menulis
buku Ilmu Mata yang diterjemahkan ke dalam bahasa Latin menjadi Optics. Selain
itu, terkenal pula ar-Razi (865-925 M) yang oleh orang Barat-Latin disebut
Rhazez. Ia mengarang sebuah buku kedokteran berjudul al-Hawi. Buku tersebut
telah diterjemahkan oleh Faraj bin Salim (seorang tabib Yahudi dari Sicilia) ke
dalam bahasa Latin dengan judul Continens atas perintah Raja Farel dari Anyou.
Ia memuat dan merangkum ilmu ketabiban dari Persi, Yunani dan Hindu, dan
hasil-hasil penyelidikan.
Ahli
kedokteran yang terkenal pada saat itu antara lain adalah Abu al-Qasim
al-Zahrawi. Di Eropa ia dikenal dengan nama Abulcassis. Beliau adalah seorang
ahli bedah terkenal dan menjadi dokter istana. Ia wafat pada tahun 1013 M. Di
antara karyanya yang terkenal adalah al-tasrif terdiri dari 30 jilid. Selain
al-Qasim, terdapat seorang filosuf besar bernama Ibn Rusyd yang juga ahli dalam
bidang kedokteran. Di antara karya besarnya adalah Kulliyat al-Thib.
Dokter
islam lain yang terkenal adalah Ibnu Sina (Avecinna). Ia menulis buku yang
berjudul al-Qonun fit-Thib, diterjemahkan dalam bahasa Latin dengan judul Qonun
of Medicine dan menjadi buku pegangan diperguruan-perguruan tinggi selama 30
tahun terakhir dari abad 15. Buku kedoteran lain Ibn Sina berjudul Materia
Medica memuat kira-kira 760 macam ilmu dipakai pedoman terutama di Barat.
Dikatakan oleh William Osler, bahwa diantara kitab-kitab yang lain, kitab Ibnu
Sina lah yang tetap merupakan dasar ilmu ketabiban untuk masa yang paling lama.
5)
Sastra
Lahirnya
karya-karya sastra di dorong oleh kemajuan bahasa pada waktu itu. Bahasa Arab
telah menjadi bahasa administrasi dalam pemerintahan Islam di Spanyol baik oleh
orang-orang Islam maupun non-islam. Bahkan, penduduk asli Spanyol menomorduakan
bahasa asli mereka. Mereka juga banyak yang ahli dan mahir dalam bahasa Arab,
baik keterampilan berbicara maupun tata bahasa. Karya-karya sastra yang banyak
bermunculan, seperti al-‘Iqd al-Farid karya Ibn Abd Rabbih, al-Dzakhirah fi
Mahasin Ahl al-Jazirah oleh Ibn Bassam, kitab al-Qalaid karya al-Fath Ibn
Khaqan, dan banyak lagi yang lain.
6)
Sejarah
Dalam
bidang ilmu sejarah ternyata karya-karya ilmu sejarah ternyata juga memberikan
sumbangan dan pengaruh dalam pemikiran-pemikiran sarjana Barat. Ibnu Khaldun,
melalui karya Muqaddimah-nya, dialah yang pertama kali mengemukakan teori
perkembangan sejarah, baik berdasarkan penyelidikan faktor jasmani dan iklim,
maupun kekuatan moral dan ruhani. Sebagai orang yang mencari dan merumuskan
hukum kemajuan dan keruntuhan bangsa, maka Ibnu Khaldun dapat dianggap sebagai
pencipta ilmu baru, karena tak ada penulis Arab maupun Eropa yang mempunyai
pandangan sejarah yang sejelas itu dan mengulasnya secara filsafat. Buku
Muqaddimah Ibnu Khaldun menjadi tumpuan studi para ahli Barat dan ahli-ahli
lainnya, dan kebebasan Ibnu Khaldun diakui oleh sejarawan Toynbee.
BAB
III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
lmu
jarh wa at-ta’dil adalah ilmu yang
membahas hal ihwal rawi dengan menyoroti kesalehan dan kejelekannya, sehingga
dengan demikian periwayatannya dapat diterima atau ditolak.
B.
Pesan
Semoga
makalah ini bermanfaaat khususunya bagi seluruh mahasiswa sanri dan ummumnya bagi seluruh mahasiswa yang senasib perjuangan.





0 komentar:
Posting Komentar